Tuesday, December 23, 2014

Cina Bangun Museum Alquran

Penduduk Muslim, Dongxian, China

Pemerintah Kabupaten Ototnomi Dongxiang, Provinsi Gansu, China, akan menghabiskan dana 4 juta yuan (636.000 US. Dolar) untuk membangun sebuah museum guna melestarikan salinan Alquran yang diperkirakan berusia seribu tahun lebih.

Seperti diberitakan laman Xinhua, Jumat (17/2/2012), Seorang Pejabat dari Dongxiang mengatakan uang tersebut akan digunakan untuk membangun sebuah museum 800 meter persegi dengan ruang pameran, sistem tampilan digital dan sistem pengawasan.

Museum ini akan menggunakan metode canggih untuk melestarikan dokumen kuno dan memperlambat kerusakannya. Pembangunan museum ini dijadwalkan untuk mulai pada bulan April dan akan selesai pada akhir tahun.

Salinan Quran kuno, yang ditulis dalam bahasa Arab dan terdiri dari 536 halaman, ditemukan di Dongxiang tahun 2009. Para ahli dari China, Inggris dan Jepang menganalisis dokumen tersebut, mengatakan tidak tertutup kemungkinan dibuat antara abad ke 9 dan 11.

Manuskrip Al-Quran, di masjid Dong Si, Abad 8-13 Lampau

"Salinan telah diklasifikasikan sebagai 'kelas A' benda budaya dibawah perlindungan nasional dan kemungkinan menjadi salah satu salinan paling awal dari Al Qur'an yang ada," kata Imam Ma Qingfang, pemimpin agama setempat.

Ma mengatakan ia telah menolak tawaran luar untuk dokumen itu, ia percaya itu sangat berharga dan menyebutnya sebagai "kitab jiwa" rakyat Dongxiang.

Menurut Ma, daerahnya memiliki 46 salinan Al-Quran, serta beberapa buku yang menjelaskan dokumen, beberapa diantaranya sudah berumur ratusan tahun.

"Dokumen ini sangat penting bagi studi sejarah kelompok etnis Dongxiang, sejarah Islam di Cina dan peradaban Cina," kata Chen Hailong, wakil kepala daerah Dongxiang.

Chen mengatakan, sebagian uang digunakan untuk membangun museum akan dibiayai oleh pemerintah daerah, sedangkan pemerintah Provinsi Gansu dan pemerintah pusat juga akan memberikan kontribusi. 

Mengenal Mushaf Al-Qur’an Tertua di Dunia

Kitab Suci Al-Qur’an yang kita kenal saat ini, pada awalnya tidaklah berbentuk sebuah kitab, namun di tulis di atas berbagai media alamiah seperti kulit unta, tulang dan sebagainya, dan dihafal oleh Rosulullah dan para sahabatnya. Pembukuan Al-Qur’an pertama kali dilakukan dimasa Khalifah Usman Bin Affan r.a, dan masih belum disertai dengan tanda baca seperti yang kita kenal saat ini.

Khalifah Usman bin ‘Affan r.a kemudian mulai melakukan pengiriman mushaf al-Qur’an ke beberapa wilayah Islam. Para ulama Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dan disebarkan pada waktu itu. Ada yang menyebutkan bahwa khalifah Usman membuatnya dalam empat eksemplar, lalu mengirimkan satu eksemplar ke wilayah Kufah, Bashrah dan Syam, lalu menyisakan satu eksemplar di sisinya. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau menuliskan sebanyak 7 eksemplar. (Selain yang telah disebutkan tadi) ia mengirimkan juga untuk Mekkah, Yaman, dan Bahrain. Ada juga yang mengatakan bahwa jumlah mushaf itu ada 5 eksemplar.

Semua naskah itu ditulis di atas kertas, kecuali naskah yang dikhususkan ‘Utsman bin ‘Affan r.a untuk dirinya –yang kemudian dikenal juga dengan ­al-Mushaf al-Imam-. Sebagian ulama mengatakan ditulis di atas lembaran kulit rusa. Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli al-Rasm kemudian diberi nama sesuai dengan kawasannya. Naskah yang diperuntukkan untuk Madinah dan Mekkah kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Hijazy, yang diperuntukkan untuk Kufah dan Bashrah disebut sebagai Mushaf ‘Iraqy, dan yang dikirim ke Syam dikenal dengan sebutan Mushaf Syamy.

Dalam proses pendistribusian ini, ada langkah penting lainnya yang juga tidak lupa dilakukan oleh ‘Utsman bin ‘Affan r.a. Yaitu menyertakan seorang qari’ dari kalangan sahabat Nabi saw bersama dengan mushaf-mushaf tersebut. Tujuannya tentu saja untuk menuntun kaum muslimin agar dapat membaca mushaf-mushaf tersebut sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Ini tentu saja sangat beralasan, sebab naskah-naskah mushaf ‘Utsmani tersebut hanya mengandung huruf-huruf konsonan, tanpa dibubuhi baris maupun titik. Sejak saat ini mushaf Al-Qur’an tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Dari edisi terbitan Kitab Suci Al-Qur’an di masa Usman Bin Affan Tersebut, sampai saat ini hanya dua eksemplar yang masih bisa dilacak keberadaanya. Satu eksemplar berada di Tashkent, Uzbekistan dan satu Eksemplar lagi disimpan di Museum Topkapi, Istambul, Turki. Berikut ini kami sajikan beberapa Al-Qur’an tertua yang masih dapat ditemukan hingga saat ini.

Al-Qur'an Tulisan Utsman bin Affan di Tashkent, Uzbekistan (651H)

Mushaf Al-Qur'an tertua di Tashken
Mushaf Al-Qur’an pertama kali di bukukan pada masa khalifah Usman Bin Affan 651 atau 19 tahun setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Beliau membuat lima salinan dan menyebarnya ke berbagai wilayah Islam. salah satu dari Mushaf pertama tersebut kini disimpan di kawasan Hast-Imam, Kota Tashkent, ibukota negara Uzbekistan. Salinan lainnya juga masih tersimpan di Topkapi Palace di Istanbul, Turki.

Al-Qur'an tertulis yang pertama ini sangat berharga sehingga penyimpanannya diletakan dalam sebuah lemari kaca yang menempel ke dinding. Tapi Oleh karena usianya yang sudah ratusan tahun, Al-Qur'an yang ayat-ayatnya ditulis dalam bahasa Hejaz dan ditorehkan diatas kulit rusa ini tidak utuh lagi, hingga kini hanya menyisakan 250 halaman. Lokasi penyimpanan Al-Qur'an ini berdekatan dengan makam ilmuwan dari abad ke-10, Kaffel Sashi. Berada di kawasan bangunan yang menjadi pusat aktivitas Mufti Uzbekistan atau pimpinan keagamaan tertinggi negara. Tidak jauh dari lokasi penyimpanan Al-Qur'an tersebut, terdapat sebuah rumah yang melindungi benda sejarah lainnya, yaitu helai rambut Rasulullah SAW. 

pengakuan dari UNESCO
Sampainya Al-Qur'an dari dinasti pemerintahan Utsman bin Affan ke Tashkent ini sangat luar biasa. Setelah kematian Utsman bin Affan, sebagian orang menyatakan bahwa Al-Qur'an ini dibawa oleh Ali bin Abi Thalib ke Kuffah atau yang sekarang dikenal sebagai Irak. Tujuh ratus tahun kemudian, ketika Tamerlane (penakluk kawasan Asia Tengah) datang ke daerah ini, ia menemukan Al-Qur'an ini dan membawanya ke ibu kotanya di Samarkand, Al-Qur'an ini berada di Samarkand lebih dari empat abad, hingga orang Rusia menaklukan kota ini pada tahun 1868.

Saat itu, Gubernur Rusia mengirimkan Al-Qur'an ini ke St Petersburg dimana Al-Qur'an ini kemudian di simpan di perpustakaan kerajaan. Namun setelah pecahnya revolusi Bolshevik, Lenin yang sangat bernafsu menguasai daerah umat Islam mengirimkan Al-Qur'an ini ke Ufa atau yang kemudian dikenal sebagai Bashkortostan. Namun akhirnya, setelah berulang kali diminta oleh Muslim Tashkent, Al-Qur'an ini akhirnya kembali lagi ke Asia Tengah pada tahun 1924. Sejak saat itulah, Al-Qur'an ini ditempatkan di Tashkent dan berlangsung hingga saat ini. Sejak awal keberadaannya, Al-Qur'an ini telah menarik perhatian banyak orang termasuk petinggi umat Islam untuk mengunjunginya.[i]

Al Quran Tertua di University of Tübingen, Jerman (642M – 662M)

Mushaf koleksi Universitas Tübingen
Peneliti di University of Tübingen di Jerman kini tengah meneliti sebuah Al Quran tulisan tangan. Disebutkan bahwa Quran tersebut berasal dari masa-masa awal pertumbuhan agama Islam. Deutsche Welle melaporkan kopi Al Quran itu tiba di perpustakaan universitas itu pada tahun 1864. Tadinya Al Quran ini koleksi pribadi Konsul Prusia Johann Gottfied Fitz Stein sebelum dibeli University of Tübingen.

Dari penelitian yang dilakukan, Al Quran itu ditulis sekitar 20 hingga 40 tahun setelah Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya hijrah dari Mekkah ke Madinah di tahun 622 Masehi. Menurut jurubicara universitas, kopi Al Quran tersebut ditulis dalam aksara Kufic, salah satu aksara tertua dalam bahasa Arab. Belum diperoleh informasi lain berkaitan dengan penelitian itu, termasuk apakah penelitian ini melibatkan ahli Islamologi atau hanya ahli bahasa dan arkelog.[ii] [iii]Naskah Al-Qur’an ini dapat dibaca di link ini

Al-Quran Tertua di Kota Dhale, Yaman (Tahun 200H / 815M)

Seorang pemuda di Yaman menemukan cetakan al-Quran tertua yang pernah dikenali dalam sebuah gua. Walaupun ditawari ratusan juta rupiah, pemuda ini menolak melepaskan al-Quran tersebut.  pemuda yang tidak disebutkan namanya ini mengaku menemukan al-Quran itu terbungkus sampul kulit di dalam sebuah gua di dalam gunung, sebelah selatan kota Dhale. Dalam halaman pertama Quran ini terdapat tulisan: "Manuskrip ini ditulis tangan pada tahun 200 hijriyah (815 masehi)". Dalam pengujian keaslian, diketahui bahwa manuskrip kitab suci itu asli. Berarti, cetakan al-Quran itu adalah yang tertua yang pernah ditemukan.

Bukti kebenaran penanggalan bisa dilihat dari jenis tulisan yang digunakan. Dalam al-Quran ini tidak ada titik-titik yang terdapat dalam abjad Arab masa kini. Tulisan dalam al-Quran ini adalah tulisan Arab lama. Titik-titik baru ditambahkan pada beberapa abad berikutnya untuk membedakan huruf yang hampir sama. Pemuda ini pernah ditawari uang sebesar 12 juta riyal Yaman atau sekitar Rp538 juta namun menolaknya dan memutuskan untuk tetap menyimpannya. Selain menemukan al-Quran tertua itu, pemuda ini juga dilaporkan menemukan pedang Zulfikar, yang merupakan hadiah dari Nabi Muhammad SAW untuk khalifah Islam keempat Ali bin Abi Talib yang juga merupakan menantunya.[iv]

Manuskrip Sana’a, Yaman (645-690M)

mushaf Sana'a, Yaman
Manuskrip Sana'a, ditemukan di Yaman pada tahun 1972 secara tidak sengaja oleh pekerja bangunan yang merenovasi dinding loteng Masjid Agung Sana’a. Mereka tidak menyadari apa yang mereka temukan dan mengumpulkan dokumen-dokumen tersebut, dan memasukkannya ke dalam 20 karung kentang, kemudian meninggalkannya di salah satu tangga menara Masjid. Penelitian terhadap manuskrip tersebut baru dilakukan pada tahun 1979 oleh para ilmuwan Jerman.

Hasil penelitian dengan test karbon terhadap manuskrip tersebut justru membingunkan. Tes karbon-14 menunjukkan beberapa perkamen berasal dari tahun 645-690 sesudah masehi. Periode ini cukup panjang, terutama jika perkamen itu digunakan ulang, yang wajar dilakukan pada zaman dahulu. Sedangkan kaligrafinya berasal dari tahun 710-715 sesudah masehi. Artinya bahwa jenis kaligrafi yang digunakan pada manuskrip tersebut justru lebih muda dari usia manuskripnya sendiri. Walaupun teks tersebut bertanggalkan hingga dua dekade awal pada abad 8 (kira-kira 70 tahun setelah kematian Nabi Muhammad), tes dengan karbon-14 menunjukan beberapa perkamen dalam kumpulan ini sudah ada sejak abad 7 dan 8. Seluruh manuskrip tersebut kini sudah dibersihkann, diurutkan, dan ditata. Dan disimpan di Perpustakaan manuskrip Yaman. [v]

Manuskrip Al-Qur’an Dong Xian, China (abad ke 8-13M)

mushaf tertua di Cina
Sebuah manuskrip kuno al-Quran ditemukan kota Dong Xian, Provinsi Gansu, Cina utara. manuskrip kuno ini merupakan al-Quran yang terbit pada abad 11M. Petugas Warisan Budaya Provinsi Gansu menyatakan bahwa Quran setebal 536 halaman ini ditulis di atas kertas Samarqand. Berdasarkan dokumen yang ada, manuskrip al-Quran ini dibawa dari kota Samarqand, Uzbekistan ke Cina pada Abad 14M.

Manuskrip tua ini disebut-sebut sebagai manuskrip al-Quran tertua yang ditemukan hingga kini, karena para arkeolog menyatakan bahwa manuskrip tua berasal dari abad 8-13 M. Bahkan berdasarkan penelitian terhadap kaligrafi dan dekorasi manuskrip ini, ada sejumlah pakar yang menyatakan bahwa manuskrip tersebut berasal dari abad 9M.[vi]

Mushaf Al Quran Tertua di Bone, Sulawesi Selatan, Indonesia (Abad ke 16)

mushaf tertua di Bone, Sulawesi Selatan
Dari penampakannya, Al Quran ini terlihat sudah tua. Lembarannya terlihat sudah usang. Tapi, kitab suci umat Islam ini diyakini yang tertua di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Al Quran tersebut memiliki ketebalan delapan inchi, plus sampulnya. Tiap lembarnya bukan terbuat dari kertas, melainkan kulit unta. Meski beberapa lembar Al Quran ini telah lapuk dimakan usia, namun tetap bisa dipergunakan sebagaimana layaknya Al Quran biasa. Tulisan arab di dalamnya, merupakan tulisan tangan, yang masih jelas, tidak buram

Al Quran tersebut dimiliki oleh keluarga almarhum Haji Rahman. warga jalan Gunung Sumeru, Kelurahan Watampone, Kecamatan Taneteriattang, Kabupaten Bone. Kelurga itu telah memegang Al Quran tersebut selama 13 generasi, sekitar abad 16 atau 400 tahun yang lalu. Merupakan warisan dari Tuan Pekki penyebar Islam pertama di Bone. Saat ini dipegang oleh keturunan beliau yang bernama Eki Muliadi Rahman.[vii]

Al Qur’an Tertua di Alor, NTT, Indonesia

Alqur’an tertua ini menjadi salah satu bukti masuknya Islam ke Kabupaten Alor, Nusa Tengga Timur.  Al-Qur’an tersebut berasal dari Kesultanan Ternate pada masa Kesultanan Babullah V sekitar tahun 1519 masehi. Dibawa oleh Lang Gogo bersama empat saudaranya yang merantau untuk menyebarkan Islam. Al Quran tersebut terbuat dari kulit kayu.

Saat ini Al Quran tersebut disimpan oleh Saleh Panggo Gogo yang merupakan generasi ke-13 keturunan Iang Gogo dari kesultanan Tarnate di desa Desa Lerabaing, Alor, NTT. Pada Festival Legu Gam di Tarnate pada tahun 2011, Al quran tertua ini didatangkan khusus oleh Sultan Tarnate dari Alor.[viii]

REFERENSI



Sunday, December 21, 2014

KETIKA BULE AUSIE BERBAHASA JAWA

Bahasa dan sastra Jawa merupakan satu dari 14 bahasa Asia yang diajarkan di Australian National University (ANU).  Sejumlah mahasiswa ANU memproduksi sekaligus menjadi pemain utama dalam film pendek yang berlatar belakang Jawa dan berbahasa Jawa, Sementara bahasa Inggris, hanya menjadi subtitle.

Film berjudul "Sri Ngilang" itu, menceritakan tentang seorang mahasiswi bernama Sri yang menghilang. Padahal, kedua temannya yang bernama Parto dan Landhung, memerlukan bantuan Sri. Film pendek tersebut sudah di unggah di Youtube. Selamat menikmati. 



Friday, December 19, 2014

Modus Baru Perampasan Sepeda Motor. Hati Hati

[WASPADALAH]

TKP : warung tradisional cepat saji @Kebon Kopi, Pilar, Cikarang
Waktu Kejadian : Sekitar Pukul 14.15 
Ciri ciri pelaku : berbadan tegap, tinggi besar
Sasaran : anak anak sekolah bersepeda motor baru
Modus : berpura pura sebagai debt collector

Calon korban (CK) nya kali ini adalah siswi Sekolah Islam di kawasan Pilar- Cikarang, yang sedang belanja bakmi di kawasan Kebon Kopi, Pilar, Cikarang. Dia memarkirkan motornya di bahu jalan di depan warung bakmi. Tak lama kemudian pelaku datang berpura pura seperti debt kolektor yang akan menarik sepeda motor yang sudah lama nunggak pembayaran.

Pelaku memaksa meminta kunci motor ke CK. Beruntung CK menolak meski ketakutan dengan pelaku. Beruntungnya lagi, pasangan suami istri pemilik warung bersikap sigap, tidak sekedar menengahi sampai adu mulut, tapi juga langsung memindahkan sepeda motor CK yg sedang belanja di warung nya, ke pekarangan belakang rumah mereka. CK yang ketakutan di bawa masuk ke rumah-nya oleh pemilik warung.

Masih dengan marah marah karena gagal merebut sepeda motor yang dipindahkan paksa oleh pemilik warung, pelaku mengancam akan menghadang CK di pertigaan SMANSA Cikarang. Sambil pergi ke arah pertigaan di maksud. Setengah jam kemudian orang tua CK tiba di lokasi menjemput CK. Pelaku sudah lama menghilang ke arah sukatani.

Sekedar info, motor yang disebut oleh pelaku nunggak 4 bulan itu baru berumur 3 bulan. Kalaupun memang di beli kredit pun mustahil sudah nunggak sampai 4 bulan. Dan menurut penjelasan pemilik warung si pelaku ini memang sempat mondar mandir beberapa kali di depan warung mereka sebelum beraksi. Salut & Thank u utk pasangan suami istri pemilik warung.

So hati hati. Terutama bagi yang anaknya sekolah naik motor sendiri dan motornya masih baru.

------------

Baca Juga

Thursday, December 18, 2014

HOREEEEE MENANG UNDIAN TELKOMSEL

[ilustrasi]

PUKUL 00:49 Dinihari

#1 : Selamat malam pak, saya dari undian ahir tahun telkomsel ingin menyampaikan bahwa bapak telah memenangkan undian sebesar 12 juta.
#2 : oh ya. amin
#1: Bpk punya kartu ATM
#2 : iya
#1 : bisa di check pak
#2 : hmmm, check kartu ATM ? buat apa ?
#1 : Oh. bisa check nomor rekening bapak sekarang, eh bapak punya nomor rekening ? bisa di check pembukuannya sekarang pak?
#2 : hmmmm .... hmmm ... hmmm . (malah meriksa nomor si penelepon, nomornya kartu AS empat angka belakangnya 1646, sambil menyimak baik baik suara di telepon saat hening. . . . kresek kresek. . . suara nafas & laku lampah yg tak sabaran. . . .)
#1 : sudah di check pak. . . .(nadanya agak memaksa)... kalau sudah di check langsung ucapkan halllo. ya pak.
#2 : hmmm . . . . anda ini dari bank ghaib mas ya
#1 : ya nggak lah pak
#2 : ouw... kalau begitu, mas ini pasti dari telkomsel ghaib.
#1 : tulalit.....tulait....tulalit.....

tidur lagi ahhh

------------

Baca Juga



SUNNAH NABI ITU MEMANG SUPER

love sunnah
  1. B.A.B duduk, beresiko tinggi terkena wasir/ambeien. B.A.B jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH.
  2. Kencing berdiri beresiko prostat dan batu ginjal. Kencing jongkok lebih bersih dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH. 
  3. Enzim di tangan membantu makanan lebih mudah dicerna. Dibanding dengan besi, kayu, atau plastik, makan dengan tangan lebih bersih, fitrah dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH. 
  4. Makan dan minum berdiri dpt mengganggu perncernaan. Dengan duduk lebih santun dan menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH. 
  5. Makan di kursi, masih kurang menyehatkan. Dengan duduk di lantai, tubuh akan membagi perut menjadi 3 ruang: udara, makanan dan air, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH. 
  6. Makan buah setelah makan (cuci mulut) kurang bagus bagi lambung, karena ada reaksi asam. Yang sehat adalah makan buah sebelum makan, membantu melicinkan saluranpencernaan dan membuatnya lebih siap, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH. 
  7. Tidur tengkurep tidak bagus untuk kesehatan, bahkan itu tidurnya syetan. Tidur menghadap kanan lebih menyehatkan, dan yg terpenting itu adalah SUNNAH. 
  8. Banyak Rahasia Sunnah yg telah diteliti para pakar, dari segi hikmah, manfaat, dan kesehatan. Benarlah yg dikatakan: di balik sunnah ada kejayaan. Bagi kita, jika misalnya belum tahu manfaatnya, terus saja semangat mengikuti adab dan tuntunan Rasul. Manfaat itu efek samping, motivasi utamanya adalah mengikuti adab dan tuntunan Rasul. 
  9. Seorang dokter Eropa berkata: jika semua manusia mengamalkan 3 sunnah saja (sunnah makan, sunnah di Kamar Mandi, dan sunnah tidur), maka harusnya saya berhenti jadi dokter karena tidak ada pasien. 
  10. Sebarkan pesan ini ke saudara kita yang belum mengetahuinya. Dan akan menjadi amal perbuatan baik kita. Dan Semoga kita yang mengaminkan doa ini termasuk orang yang selalu mengamalkan sunnah Rasulullah Saw. Aamiin 
[tausiah Ust. Yusuf Mansur]

------------

Baca Juga



Thursday, December 11, 2014

Dialog Orang Mati [Bagian 2]


Konsekwensi Bathin

Ada konsekwensi dari setiap keputusan, begitupun keputusanku mengiyakan permintaan dari seorang paman untuk keponakannya yang telah lama hilang dan memang tak kan pernah kembali lagi ke dunia ini. Anak perempuan itu (sebut saja) namanya Andani (*) ayahnya adalah orang asli tempatan, memiliki dua orang saudara laki laki. Sedangkan ibunya berasal keluarga kaya Sumatera dan masih kerabat keraton Langkat. Kehidupan-nya begitu berbahagia dengan limpahan harta hasil bisnis kedua orang tuanya dan pengaruh ibunya memang cukup besar dalam membangun dan membesarkan bisnis tersebut.

Petaka datang manakala Andani menginjak usia remaja, intrik bisnis dan keluarga berujung pada lenyapnya Andani tanpa jejak. Jasadnya diketemukan beberapa hari kemudian, penyidikan polisi tak membuahkan hasil menguak siapa pelakunya. Sampai kemudian seorang remaja teman sekolahnya mengaku sebagai pelaku pembunuhan itu. Si pelaku sendiri saat itu sudah dalam kondisi yang teramat ketakutan karena senantiasa dihantui oleh rasa bersalah yang teramat sangat sampai ahirnya menderita sakit jiwa.

Peristiwa memilukan itu menjadi guncangan teramat berat bagi kedua orang tua Andani. Ibunya jatuh sakit tak mampu menghadapi kenyataan telah kehilangan anak semata wayangnya, sampai ahirnya meninggal dunia dalam kesedihan berkepanjangan. Cukup lama setelah itu ayahnya baru menikah lagi namun tak lama setelah itu ayahnya pun berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan semua harta mereka di tangan istri mudanya. Dan disana masalah baru bermula.

Sang istri muda yang juga adalah ibu tiri dari (alm) Andani kemudian menikah lagi dengan pria lain dan berencana menjual rumah dan semua aset warisan suaminya. Dua saudara dari ayahanda Andani sama sama tidak setuju, meskipun dengan alasan yang berbeda. Salah satu dari mereka menolak penjualan itu karena mengingat semua aset itu adalah hasil keringat kakak kandungnya selama bertahun tahun dan layak dipertahankan. Sementara yang lainnya menolak penjualan itu karena [seakan] berhasrat untuk menguasai-nya.

Masalah menjadi lebih pelik lagi karena ternyata sertifikat dan sebagainya yang terkait dengan aset aset dimaksud lenyap entah kemana. Peti penyimpanan berkas berkas itu seakan ditelan bumi seiring dengan kematian Andani, Ibunya lalu kemudian Ayahandanya. Andani pun [mengaku] sangat tidak setuju dengan rencana penjualan aset, terutama rumah orang tuanya, yang nota bene adalah kediaman dia juga saat masih bersama.

Lenyapnya berkas yang dibutuhkan membuat salah satu pihak berang. Pencarian berujung perburuan. Seperti perburuan peti harta karun yang [belum pernah ditemukan] lalu dinyatakan hilang entah dimana, ada dimana, ada pada siapa. Tak tahu dimana rimbanya. Mengejar bayangan sendiri jauh lebih nyata dibandingkan perburuan seperti itu. Akibatnya adalah membabi buta. Bau uang menarik perhatian pihak lain yang turut meramaikan sepi. Andani turut menjadi sasaran perburuan, dikemudian hari berubah menjadi sasaran utama.

Terserah anda untuk menyebutku konyol dalam masalah ini, atau mau menyebutku ikut campur dalam urusan orang lain. yang pasti aku tidak pernah ada niatan untuk mengganggu siapapun. Kau pikir apa yang harus ku lakukan ketika “seorang” remaja putri datang ke rumahku dengan kondisi kusut masai, menghiba meminta bantuan untuk sekedar berlindung. Aku tak punya hati untuk mengusirnya dengan alasan dan cara apapun, begitu dia ku izinkan masuk ke rumahku maka dia tanggung jawabku, tak perlu kesaktian untuk sekedar memahami konsekwensi itu.

Bukankah Tuhan tak hanya menyeru pada satu jenis mahluk, bukankah Tuhan juga yang memberi perintah untuk tolong menolong dalam kebaikan tanpa kata kata tambahan “Ditujukan Kepada”, “CC”, “BCC”, “NB” ataupun “catatan kaki”. Terlalu pelik untuk mengurai dan menguak mahluk apakah gerangan sejatinya si dia itu karena Tuhanpun tak pernah bertanya makala membagikan pertolongannya. Bukankah Tuhanpun berkata bahwa ghaib ada padanya dan kita hanya diberi pengatahuan sangat sedikit saja tentang itu. 

Ketika sore itu, bakda sholat asyar, aroma harum semerbak di ruang kamar tempat ku melaksanakan sholat, suara panggilan ‘ayah’ itu terdengar. Bukan suara dari salah satu putri-ku karena mereka memanggilku papa. Tampak dia sudah berdandan rapi dengan gaun putih, senyumnya yang tersungging dan setangkai bunga merah jambu diselipkan di telinga kirinya. Dia tampak sangat senang dan lebih bahagia lagi karena telah mengetahui siapa “nama dirinya”.

Sebenarnya anak ke-3 ku yang "membawa" Andani ke rumah dan dia terlihat begitu senang punya kakak baru yang setia menemani-nya kemanapun dia pergi, termasuk menemani dia belajar dan ulangan di sekolah tanpa seorangpun di sekolahnya yang tahu tentang hal itu. Pada saat pertama datang ke rumah, Andani memang dalam kondisi mencemaskan. Dia bertutur tentang perjalanan hidup-nya, tentang peristiwa memilukan yang merenggut nyawanya, tentang kedua orang tuanya yang juga telah meninggal dan hingga kini dia belum pernah berjumpa lagi dengan mereka. Tentang intrik di keluarga ayahandanya, tentang semua yang tersisa di memori nya kecuali satu hal yang dia sama sekali tak mampu untuk mengingatnya. “Nama” nya sendiri.

Dia menceritakan itu semua ke anakku seperti layaknya seorang kakak yang mendongeng ke adiknya menjelang tidur, dongeng panjang yang hening tanpa suara. Bagiku dongeng yang sudah terjadi bertahun tahun yang lalu itu tampak seperti sinema 4D, tak ada yang dapat diperbuat meski seakan berada disana saat peristiwa itu terjadi dan lebih baik diam dan membisu. . . . . . . .

Bersambung

---------

Baca Juga


Tuesday, December 2, 2014

Apakah Ada Gua Wisata di Nusa Kambangan ?

taken from pancatritunggal foundation
-------

Baca Juga


Dialog Orang Mati

ilustrasi
Terlalu rumit untuk bicara tentang takdir, qodho & qodar, apalagi perencanaan yang rumit tentang sebuah kejayaan hidup. Suka atau tidak suka inilah salah satu penggalan kisah hidup yang harus di hadapi, dijalani dan dilewati, sepelik apapun itu.

Sore itu, bakda sholat magrib, aku duduk di kursi di teras depan kediaman kami yang mungil di hadapan serakan kertas putih di atas meja bundar. Kediaman kami memang mungil, seluruh bagian terasnya sudah diatapi dengan asbes, ditembok kiri dan kanan dan dipagar bagian depannya menyisakan satu pintu akses kecil. Sekitar sepertiga dari nya ada kolam ikan hias yang sudah kubuat sejak pertama kami menempati rumah tersebut, dan kupertahankan hingga kini.

Seorang lelaki berpakaian safari & berkopiah putih berkain sarung datang mengucapkan salam. Lalu kujawab “wa’alaikum salam”. Beliau menyampaikan maksud kedatangannya adalah untuk menyampaikan terima kasih padaku. “terima kasih untuk apa pak ?” tanyaku. Beliau bertutur bahwa, dia sudah menghabiskan waktu begitu lama untuk menjejak keberadaan keponakan-nya yang entah ada dimana, sampai kemudian dia mendapat kabar bahwa keponakannya tinggal bersama kami.

Kedatangan beliau sekaligus untuk menitipkan keponakannya padaku, selain itu beliau juga menyampaikan undangan untuk ku, bila ada kesempatan untuk mampir dan beramah tamah di pesantren yang dikelolanya. Tanpa menyebutkan nama diri dan pesantrennya dengan jelas, dan kemudian pamit. Sebuah dialog yang terlalu membingunkan.

Aku tidak sedang melamun, mengantuk apalagi tertidur dan sangat sadar bahwa aku tidak sedang bermimpi, berhayal atau berhalusinasi. Hayalan pengangguran pastinya tentang sumber mata pencaharian bukan tentang tamu aneh yang berbicara soal hal yang aneh. Terlalu aneh karena beliau datang dan pergi sekoyong koyong entah darimana dan kemana. Tak ada tanda pintu pagar telah membuka dan menutup. Dialog tanpa suara dan tanpa bekas.
Aku sempat menuliskan beberapa nama di selembar kertas yang terserak di meja di depanku. Tahukah anda tentang sesuatu ?. bahwa pada saat anda membuka dialog dengan siapapun, itu seperti menyambungkan kabel data dari sebuah network ke komputer anda. Anda akan mampu membaca data yang ada di network yang terhubung dengan anda, begitupun sebaliknya.

Tamuku malam itu seakan membiarkan database memorinya terbuka untuk dibaca, tentang siapa dia [selain namanya], tentang lokasi pesantrennya, kediamannya, keluarganya, intrik yang terjadi di dalamnya dan seterusnya, namun beliau mengunci habis tentang siapa “namanya”.

Mbah google sempat membawaku ke satu blog yang menampilkan sejarah singkat pesantren yang dikelolanya sampai kemudian bagian itu [seakan dengan sengaja dan terburu buru] dihapus oleh admin nya, meskipun tak terlalu sulit untuk menemukan wajahnya dari sekian banyak foto aktivitas pesantren yang sengaja di simpan disana.

Akal waras akan berasumsi gila bagi penulis yang bercerita panjang lebar tentang sebuah dialog yang tanpa suara, tentang seseorang yang datang berterima kasih telah menerima seseorang sebagai anggota keluarga kami padahal tak ada orang lain yang tinggal bersama kami selain aku, istri dan anak anak kami.

Terlalu kentir untuk dijelaskan kenapa kemudian aku membuat sketsa seorang remaja putri cantik bergaun putih dengan rambut sebahu, usianya kira kira sepantaran dengan putri sulung-ku. Lalu tanpa sadar aku menyahuti panggilan suara anak perempuan yang memanggilku “ayah” . . . . Selasa, 2 Desember 2014……..

[Bersambung].

---------

Baca Juga



WARTEG Riwayatmoe Doeloe

Warteg Jaman Doeloe
WARTEG, 100% INDONESIA

Ketika pertama kali kembali lagi ke Pulau Jawa setelah sekian lama tingga di Batam, Kepulauan Riau, keinginan pertamaku adalah makan dan nongkrong di warteg, maklum warung makan seperti itu tak pernah kutemui selama tinggal disana, seorang teman yang menjemputku di bandara Soekarno Hata [kala itu] bahkan tertawa ngakak saat kubilang aku pengen makan di warteg. Warteg memang asik & 100% Indonesia.

ALKISAH TENTANG WARTEG

Ada dua versi tentang riwayat warteg atau Waroeng Tegal yang berkembang di masyarakat. Versi pertama menyebutkan bahwa Warteg telah ada sejak sekitar tahun 1628-1629 pada saat terjadi penyerbuan VOC di Batavia oleh Raja Mataram, Sultan Agung Hanyakrakusuma. Versi ini menyebutkan bahwa Untuk kepentingan perang, Sultan Agung memerintahkan pembukaan lahan sawah besar besaran di wilayah Indramayu, Karawang dan sekitarnya, untuk menjamin ketersediaan logistik pasukan yang akan bertempur dan mata mata kerajaan yang sedang menghimpun informasi.

Selain pembukaan sawah juga disebar warung makan disepanjang jalur penyerbuan. Bupati Tegal kala itu, Tumenggung Martoloyo ditunjuk sebagai senapati panglima perang, sekaligus menyiapkan ubo rampe peperangan, termasuk penyediaan logistik. Meski belum ada bukti otentik, kuat dugaan Martoloyo mengerahkan warga Tegal juga menjadi petani yang menyiapkan lahan di Indramayu, hingga menjadi juru masak pasukan di Batavia.

Tapi penyerangan yang dipimpin Tumenggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-Agul tersebut tidak berhasil mengalahkan tentara kompeni. Karena saat hari pertempuran lumbung2 padi yang ada di daerah Karawang dan lainnya dibakar oleh mata-mata musuh, dan konon tradisi membuka warung warung warung-warung itu masih bertahan sampai hari ini.

Adalagi versi kedua yang menyebutkan bahwa Warteg bermula sejak tahun 1950-an hinggan 1960-an. Saat itu pembangunan infrastruktur di ibukota demikian pesat. Sejumlah proyek dikerjakan, yang menimbulkan efek berganda (multiplier effect) sejumlah pekerja (tukang dan kuli) yang cukup banyak. Pekerja bangunan ini umumnya mendirikan bedeng-bedeng sementara di lokasi proyek. Selain tempat tinggal, pekerja ini membutuhkan konsumsi yang dapat dijangkau koceknya: murah, dan banyak.

Peluang ini rupanya dibaca secara kreatif oleh warga Tegal. Kelompok imigran asal Tegal di ibukota mulai menyediakan layanan kuliner di lokasi proyek. Mereka mampu menjual produk yang murah dan banyak, yang kemudian menjadi satu stereotip Warteg yang dikenal publik hingga hari ini. Realitas ini kemudian menjadikan stereotip awal Warteg: berada di sekitar lokasi proyek, dibuat dari bahan-bahan semi permanen seperti halnya bedeng pekerja proyek, bersifat musiman mengikuti periodisasi pengerjaan proyek, dikerjakan oleh 3-5 pekerja borongan yang umumnya laki-laki.

Ada catatan menarik soal karakteristik Warteg ini. Umumnya satu Warteg diusahakan oleh kelompok keluarga secara bergantian. Satu periode (sekitar 3 bulanan) keluarga pertama mengelola warteg di kota, keluarga ke 2 akan mengelola lahan pertanian yang ada di kampung halaman, lalu periode berikutnya giliran keluarga kedua yang mengelola warteg dan keluarga kedua yang pulang kampung sementara sambil mengelola lahan pertanian yang ada di kampung halaman mereka, begitu seterusnya.

------------

Baca Juga



Thursday, November 27, 2014

Sakura Bersemi di Pulau Batam

Sakura di sisi ruas jalan utama Muka Kuning - Batam. di latar belakang adalah menara Masjid Nurul Islam, Kawasan Industri Batamindo - Muka Kuning.
Sakura memang tekenal sebagai Ikon nya Jepang, meski bunga ini juga telah menyebar ke berbagai penjuru dunia dan keindahan mekarnya sakura juga sudah bisa dinikmati di luar Jepang seperti di Washington DC dan beberapa kota dunia lainnya. Sebagian kecil bunga jenis ini sekian tahun lalu ditanam oleh pengelola Kawasan Industri Batamindo – Muka Kuning Batam di dalam kawasan industri tersebut.

Jejeran pohon pohon ‘sakura’ tersebut sebagian besar ditanam di sekitar pintu dua kawasan Muka Kuning hingga ke pekarangan sekeliling Masjid Nurul Islam – Muka Kuning, Batam. Dan kini pohon pohon itu mulai berbunga, sangat indah menghadirkan suasana baru di antara panasnya cuaca Batam. Masjid Nurul Islam ini memang masjid utama dan pertama di Kawasan industri Batamindo. Meriah dan makmur jemaah sejak pertama kali berdiri dan kini semakin semarak dengan kehadiran bunga bunga yang bermekaran itu.

Sakura di halaman Masjid Nurul Islam - Muka Kuning, Batam
Saya punya kenangan khusus dengan masjid ini. Sekitar awal tahun 1996 hari itu Hari Jum’at seperti hari ini. Cuaca cerah saat saya dan seorang teman berangkat ke masjid ini. tiba disana, bagian dalam masjid sudah penuh sesak begitupun halamannya, mau tak mau kami berdua kebagian tempat di luar masjid tepatnya di halaman rumput sebelah selatan masjid. Cuaca masih cerah saat khutbah dimulai dan perlahan mendung menjelang khutbah berahir.

Dan benar saja, mendung makin pekat saat sholat akan dimulai. Takbir pertama, guntur menggelegar hujan turun mendadak begitu deras dan lebih deras lagi air yang mengguyur kepalaku yang berdiri tepat dibawah cucuran atap masjid. Sekujur tubuh basah kuyup sejak rokaat pertama dan setiap kali sujud harus menahan nafas karena hamparan sajadah yang tergenang air hujan. Usai sholat, sesama jemaah yang kebagian sholat diluar sepertiku tidak hanya saling besalaman tapi juga saling ledek karena sama sama basah kuyup. Itu salah satu momen tak terlupakan di Masjid Nurul Islam yang satu ini. 

Sakura di sisi ruas jalan utama Muka Kuning - Batam. di latar belakang adalah menara Masjid Nurul Islam, Kawasan Industri Batamindo - Muka Kuning.
bermekaran di depan masjid Nurul Islam
santai dulu ah. . . .



Monday, November 24, 2014

Mencerna Legenda Curug Cigentis dan Sanggabuana

CURUG CIGENTIS - KARAWANG
Tempat Mandi Putri KeratonItu adalah kesimpulan yang menurutku paling sreg yang dapat kutulis dari legenda curug Cigentis yang dipampang di pos Perhutani di Curug Cigentis. Curug dalam bahasa Sunda berati Air Terjun. Sedangkan nama Cigentis (juga menurut legenda) adalah nama putri keraton yang pertama kali mandi di kolam yang terbentuk dari air terjun tersebut. Nama lengkapnya adalah Nu Geulis Nyi Geuntis. Konon dia adalah anggota pasukan khusus kerajaan Padjadjaran yang di utus oleh raja untuk mengawal atau lebih tepatnya ‘menguntit dan mengawasi’ aktivitas dakwah yang dilakukan oleh para wali di wilayah Padjadjaran, tapi kemudian malah menjadi yang pertama berikrar memeluk Islam diantara anggota kesatuannya.

Curug Cigentis merupakan salah satu wana wisata yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, KPH Purwakarta Seluas 5,00 ha terletak di petak 47 c RPH Cigunungsari, BKPH Pangkalan, Secara administratif pemerintahan terletak di Desa Mekar Buana Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, berada pada 6°35 LS dan 107°12” BT, ketinggian tempat 600-1200m dpl dengan konfigurasi lapangan berupa pegunungan, bergelombang kelerengan agak curam s/d curam. Jarak kota kabupaten Karawang ±40Km dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sedangkan dari daerah Bogor dapat melalui Cariu.

Legenda Curug Cigentis (klik untuk memperbesar)
Kendaraan apapun yang anda pakai ke wanawisata satu ini, pada ahirnya haruslah tetap berjalan kaki dari pos perhutani menuju ke air terjun ini sekitar 200 meter. Jalanan menuju ke lokasi sebagian besar sudah di cor beton. Tersisa sekitar 1.5 km yang masih berupa jalan berbatu keras dan menanjak cukup ekstrim. Bila malas berjalan kaki, beberapa penduduk setempat menyediakan jasa ojek hingga ke lokasi parkir motor terahir beberapa meter dari pos perhutani. Namun naik ojekpun harus punya nyali mengingat tanjakan yang dilalui memang cukup ekstrim.

Mari kita cerna

Di pos perhutani tempat membeli tiket masuk seharga Rp. 10 ribu per orang, sudah dipampang spanduk besar yang menceritakan legenda tentang curug Cigentis. Lumayan untuk sekedar menambah pengetahuan. Meskipun legenda yang ada memang terlalu banyak celah untuk dikomentari. Silahkan bersabar untuk melanjutkan membaca ulasannya berikut ini sampai tuntas, untuk menemukan celah celah yang saya maksud. Mari kita cermati, Legendanya begini :

“Beberapa ratus tahun yang silam pasinggahan (Sekarang Curug Cigentis) adalah hutan belantara yang kering/kekurangan air, merupakan salah satu daerah kekuasaan Prabu SIliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa.

Bila dibaca dengan baik rasanya terlalu janggal bila hutan belantara dalam kondisi kering/kekurangan air. Bagaimana mungkin tanaman akan tumbuh apalagi sampai menjadi hutan belantara bila kekurangan air. Legenda itu memberikan berita bahwa hutan di gunung Sanggabuana sudah ada sejak beberapa ratus tahun silam. Walaupun mungkin belum ada aliran sungai yang kini membentuk curug cigentis.

Lalu Siapakah itu “Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Sukma Rasa”?. Ahli sejarah memang terbagi dua pendapat tentang Prabu Siliwangi. Pendapat pertama mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya satu yakni Sri Baduga Maharaja. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa Prabu Siliwangi itu ada banyak karena itu adalah gelar bukan nama seseorang dan bukan hanya Sri Baduga Maharaja yang bergelar Siliwangi. Hanya saja, saya tidak menemukan Nama Prabu Sukma Rasa diantara jejeran nama Raja Padjadjaran. Mungkin yang dimaksud adalah Raden Pamanah Rasa (karena ada kata “Rasa”) yang merupakan nama lain dari Sri Baduga Maharaja.

Pada masa penyebaran Islam di Pulau Jawa Oleh Wali Songo, Curug Cigentis merupakan salah satu tempat yang disinggahi, daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya beragama Hindu. Walaupun sebelumnya telah meminta ijin tetapi Prabu Siliwangi mempunyai kecurigaan kepada para wali (6 orang wali) tersebut, dikhawatirkan akan merebut kekuasaan, untuk mengawasi gerak gerik wali tersebut, Prabu SIliwangi tetap mengijinkan tetapi menyertakan pengawal yang sebenarnya telah di bai’at (doktrin) setia dengan alasan sebagai pengawal para wali.”

Dengan mudah anda akan bertanya, WaliSongo itu ada sembilan atau 6 orang sih?. Baiklah kita anggap saja bahwa dari sembilan wali yang ada hanya enam orang yang terlibat dalam legenda tersebut. Hanya saja, agama masyarakat Sunda adalah Agama Sunda Wiwitan bukan agama Hindu. Tapi baiklah bisa jadi di daerah Cigentis dimasa itu penduduknya beragama Hindu, jadi wajar bila kemudian para pengawal wali itu tak terlalu keberatan para wali berdakwah disana karena toh agama yang dianut bukan agama mayoritas. Bila itu benar maka semestinya di sekitar Cigentis terdapat peninggalan era Hindu berupa candi atau lainnya. Yang ada saat ini disekitar Cigentis justru situs batu Tumpang tak jauh dari Curug Peteui yang lebih mirip sebagai peninggalan masa animis ataupun megalitikum.

“Curug Cigentis pada saat itu merupakan daerah yang kering tidak ada air sama sekali, guna keperluan hidup dan beribadah para wali berdo’a bermunajat memohon dengan penuh kepasrahan, khusu’ serta penuh kesabaran, atas kekuasaan Tuhan YME dari sebuah batu yang besar keluarlah air, membentuk sebuah air terjun (Curug). Orang orang yang berada pada lokasi tersebut serentak merasa kaget, sekaligus kagum dan suka cita, tidak terkecuali para prajurit Prabu Siliwangi yang ditugaskan mengawal para wali tersebut. Salah satu pengawal yang bernama “Nu Geulis Nyi Geuntis” secara spontan “berikrar” masuk agama Islam. Karena beberapa hari tidak mandi dan kekurangan air, Nyi Geuntis sari sambil sambil mengucapkan kalimat mengagungkan Tuhan (Allohu Akbar 3X) langsung terjun dan mandi pada Curug tersebut. Melihat hal tersebut, maka para wali menamakan curug tersebut dengan “Curug Cigentis”

Sebenarnya para wali, para pengawalnya dan orang orang yang mengikuti mereka itu, berkumpul dibagian mana sih?.  Di tempat yang kini jadi air terjunnya, atau di dekat batu besar yang mengeluarkan air?. Bila mereka berkumpul di dekat batu besar yang mengeluarkan air berarti lokasinya berada di bagian atas dari Curug Cigentis saat ini, berarti “Nu Geulis Nyi Geuntis” itu adalah pengawal sakti yang mampu terjun dari bagian atas curug setinggi lebih dari 20 meter untuk mandi pada curug tersebut.

Bila memang air yang mengalir di Curug Cigentis berasal dari sebuah batu besar semestinya hingga hari ini pun batu besar yang mengeluarkan air tersebut masih dapat kita temui disana, faktanya curug cigentis berasal dari air aliran sungai kecil yang terbentuk dari begitu banyak mata air di Gunung Sangga Buana, yang melewati tebing curam hingga membentuk air terjun. Atau jangan jangan batu besar yang dimaksud adalah gunung sanggabuana itu sendiri.

“Melihat apa yang dilakukan Nyi Geuntis Sari pengawal yang lain pun ikut masuk Islam yang dipimpin salah satu wali yang bernama Kyai Bagus Sudrajat antara lain Putri Komalasari, Putri Melati, Putri Cempaka, Putri Sri Dayang Sari, Putri Sri Kunti, Putri Kaling Buana, Ibu HArum Sari, Ibu Harum Melati, Putri Malaka Mekah, Putri Malaka Hujan, Putri Rangga Huni, Resi Taji Malaka, Ganda Malaka, Guntur Roma, Rd. Jaka Tunda dan Masyarakat lainnya.”

Diantara para pembaca adakah yang bisa membantu saya untuk menjelaskan siapakah anggota walisongo yang bernama Kyai Bagus Sudrajat itu. Karena dibagian awal tadi disebutkan bahwa ‘para wali’ yang dimaksud adalah walisongo?.

Bila mengamati nama nama para pengawal wali itu. Saya lebih memilih untuk menyebutnya sebagai ‘Para Penggoda Wali” bukan “pengawal wali”.  Bagaimana tidak, dari 15 nama yang disebut itu 12 diantaranya adalah perempuan dan 9 diantaranya bergelar Putri. Yang namanya putri pastinya cantik, mustahil ganteng dong.

Hei, itu aku
“Disekitar lokasi tersebut terdapat sebuah bukit yang sering dipakai pertemuan oleh para wali sehingga lokasi tersebut sampai saat ini dikenal dengan puncak sanggabuana. Sangga = sembilan menandakan wali sembilan dan ‘Buana” = tempat dimana lokasi tersebut sering dipakai berkumpul dalam penyebaran agama ke daerah Cirebon, Demak, Kudus, Banten, Garut, Pemijahan Tasikmalaya, dan lain lain. Konon yang membagi bagikan tugas tersebut adalah Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani.

Salah satu petuah pawa wali yang menjadikan daerah tersebut berkeramat adalah ‘ikuti jejak kami’ kalau kita mempunyai maksud dan tujuan tetap meminta kepada Allah SWT (dari berbagai sumber)”.

Pada alenia ini terkesan terlalu dipaksakan untuk menghubungkan puncak Sanggabuana dengan Walisongo. Sangga dan Sanga memiliki makna yang jelas berbeda. Sangga bermakna penopang, sedangkan Buana atau Buwana bermakna Dunia atau semesta. Fakta menunjukkan bahwa Gunung Sanggabuana di Karawang merupakan titik tertinggi di wilayah Karawang. Bisa jadi disebut dengan nama Sanggabuana (penopang dunia) karena faktor tersebut.

Lebih menarik lagi dalam legenda itu disebutkan nama Syekh Muhidin Abdul Kodir Zaelani yang membagi bagikan tugas kepada para wali(songo). Mungkin yang dimaksud adalah Abdul Qodir Jailani (1077–1166 M). Hanya saja beliau tak sejaman dengan walisongo.

Dan dari paparan legenda itu saya hanya mampu mempuat kesimpulan yang menurutku paling sreg bahwa Curug Cigentis itu legendanya adalah tempat mandinya putri keraton. Yang sedangkan bagian lain dari legendanya justru lebih menarik untuk di diskusikan ulang. Atau mungkin ada yang berminat untuk mulai menggali lebih jauh legenda itu, termasuk kemungkinan untuk menemukan sebuah candi Hindu di sekitar Cigentis dan Sanggabuana. Siapa tahu.